Tinggalkan komentar

I. PARADIGMA

KECELAKAAN FINANSIAL

Tragis, Banyak Orang Tak Sadari Kecelakaan Finansial. Jelas, tidak ada seorang pun dari kita yang menginginkan terjadinya kecelakaan. Meski ada saja kalangan yang tergolong pencinta risiko, hanya orang tidak waras yang jika melakukan sesuatu menginginkan terjadinya kecelakaan. Konkret nya, semua manusia normal tidak pernah mengharapkan terjadinya kecelakaan bagi dirinya, saudara, handai taulan atau pun teman-temannya. Namun, hidup adalah rahasia. Tidak ada juga yang bisa mengetahui apakah akan terjadi kecelakaan atau tidak. Yang bisa adalah mencoba menghindarinya. Dan, kecelakaan hakikatnya tidak hanya dalam bentuk fisik, tetapi juga bisa terjadi dalam bentuk yang lain, misalnya kecelakaan jiwa, kecelakaan hati dan juga kecelakaan finansial.

 

Kecelakaan finansial? Ya, itulah yang akan kita bahas kali ini. Sebab, dalam realitasnya banyak juga orang yang sebenarnya sudah mengalami kecelakaan finansial tetapi tidak menyadarinya.

Kecelakaan finansial yang paling mendasar dan banyak diderita orang adalah ketika pendapatan lebih kecil dibandingkan dengan pengeluaran. Kemudian, ketika investasi yang dilakukannya merugi. Juga, ketika utang membumbung tinggi dan sudah sangat sulit untuk membayarnya. Selain itu, tentu masih banyak lagi jenis kecelakaan finansial lain. Yang membedakan, apakah kecelakaan finansial itu bersifat fatal, dalam arti bisa membangkrutkan atau hanya berdampak pada cedera finansial, di mana para penderitanya tidak bisa melakukan pemupukan kekayaan.

 

Mari kita telaah satu per satu.

Pertama, pendapatan yang tidak pernah cukup. Inilah kecelakaan finansial yang paling banyak diderita orang. Tragisnya, tidak banyak juga yang menyadari. Kecelakaan jenis ini bisa dibagi lagi menjadi beberapa penyebab, yakni orang-orang yang secara finansial memang mengalami keterbatasan, termasuk orang-orang yang hidup dalam kategori miskin dan setengah miskin. Artinya, pendapatan riil mereka memang rendah. Namun, yang lebih banyak adalah kecelakaan finansial karena soal perilaku. Ini banyak dialami oleh masyarakat perkotaan yang seolah-olah secara kasat mata hidup berkecukupan. Mereka tampil layaknya orang berada. Namun, sebenarnya kondisi finansial mereka berantakan karena pengeluaran lebih besar daripada pendapatan. Dan defisit tersebut ditutupi dengan utang kartu kredit atau jenis pinjaman lain. Jadi intinya kecelakaan tersebut terjadi karena perilaku finansial yang kurang sehat. Bagaimana mengatasinya? Solusinya selain terapi kejiwaan juga terapi finansial. Paling tidak, harus mau menyadari akar masalahnya adalah di perilaku konsumtif. Mengeluarkan uang untuk hal-hal yang bukan ”kebutuhan”, tetapi lebih didasari faktor lain, termasuk gengsi, ingin gaya, ingin masuk lingkungan sosial tertentu dan lain sebagainya. Konkret nya, masalah seperti ini hanya bisa diatasi dengan menaikkan pendapatan.

 

Kedua, terjebak dalam utang yang sangat besar. Kecelakaan finansial jenis ini bisa terjadi karena banyak sebab. Utang yang sebenarnya dimaksudkan untuk kegiatan produktif pun bisa mengalami masalah, misalnya kondisi ekonomi yang tiba-tiba tidak kondusif dan lain sebagainya. Akan tetapi, kecelakaan finansial dalam bentuk utang besar kerap kali terjadi karena ketidak pahaman soal utang dan sikap menggampangkan atau perpaduan dari berbagai sebab. Sebagai contoh, ada orang yang awalnya berutang untuk membeli rumah. Ini sebenarnya tidak masalah. Yang menjadi masalah adalah jumlah angsuran untuk membayar utang tersebut jauh lebih tinggi dibandingkan dengan kemampuan finansial yang bersangkutan. Akhirnya, yang bersangkutan kerap menunggak, lalu tunggakan tersebut dikenakan bunga, denda dan kemudian membengkak. Akhirnya, pihak yang berutang tidak sanggup lagi membayar. Rumah pun disita pihak bank.

 

Lalu bagaimana solusinya? Pahami kembali, utang yang wajar adalah jika pembayaran angsuran tidak melebihi 30 persen pendapatan sehingga yang 70 persen bisa digunakan untuk memenuhi kebutuhan hidup dan berbisnis. Namun tidak jarang orang-orang berutang dalam jumlah besar sehingga nilai angsurannya bisa mencapai 70 persen pendapatan atau bahkan lebih. Jika situasinya begini, percayalah, hanya menunggu waktu utang tersebut untuk bermasalah. Jadi, cara untuk menyelesaikan masalah tersebut adalah menurunkan kembali nilai angsuran pembayaran utang dan sekaligus menggeser jangka waktu pembayaran menjadi lebih panjang. Di sisi lain, pihak yang berutang tentu saja mesti menaikkan pendapatan sehingga nanti secara persentase nilai pengeluaran untuk pembayaran utang bisa mencapai 30 persen saja atau paling tidak mengalami penurunan dibandingkan dengan saat ini.

 

Ketiga, kecelakaan finansial dalam bentuk kegagalan investasi. Kalau investasi yang dilakukan menggunakan dana sendiri, implikasinya adalah kehilangan kesempatan untuk memupuk kekayaan. Namun jika investasi tersebut menggunakan dana pinjaman, yang terjadi kemudian adalah penambahan utang. Apa pun sumber dananya kegagalan investasi bisa terjadi karena kekeliruan dalam berinvestasi dan perilaku investasi itu sendiri. Kekeliruan dalam berinvestasi misalnya adalah berinvestasi pada produk-produk berisiko tinggi yang tidak dipahami karakteristiknya. Yang ada di benak hanyalah keinginan mendapatkan imbal hasil tinggi. Padahal imbal hasil tinggi sama artinya dengan risiko tinggi. Jenis investasi ini hanya boleh dilakukan oleh orang-orang yang sudah sangat ahli dalam berinvestasi. Bagi pemula, investasi berisiko tinggi sangat terlarang, apalagi kalau sekadar ikut-ikutan.

 

Lantas, kalau sudah mengalami kegagalan investasi, apa yang mesti dilakukan? Berhenti berinvestasi? Keliru. Berhenti berinvestasi tidak akan pernah mampu mengembalikan dana Anda yang hilang.

Solusi kegagalan berinvestasi adalah lakukan kembali berinvestasi dengan membangun Bisnis Anda Sendiri dengan cara yang benar, cerdas dan professional. Dan saya pun tidak setuju dengan kalimat “Hemat pangkal Kaya” (mohon maaf) karena sepanjang hidup yang saya saksikan banyak orang yang berhemat, tetapi tidak kaya kaya… qiqiqi. Meskipun uang bukan segalanya, tetapi segala galanya memang membutuhkan uang.

Namun apapun penyebabnya peningkatan pendapatan lah yang sangat ampuh untuk mengatasi dari semua keadaan seperti diatas.

 

Entah mengapa, hampir semua masyarakat yang memilih jalur wirausaha selalu berpikir “bagaimana membuat sesuatu” Mereka masih berpikir berwirausaha itu penuh kesibukan, seperti dalam deskripsi buku-buku teks, yaitu dari mengembangkan ide, membuat, mempromosikan sampai menyerahkannya ke konsumen. Pantaslah bila sebagian besar usahawan pemula gagal dan mereka mengatakan berwirausaha itu sulit. Kalaupun berhasil, sebagian besar terperangkap dalam bisnis yang relatif murah dan overcrowding, yaitu kuliner. Ini tentu kurang sehat.

 

Entrepreneur pada dasarnya bukanlah melulu melakukan penciptaan produk (creating product), melainkan creating value. Anda bisa bayangkan apa jadinya bila Indonesia tidak memiliki modern marketing entrepreneur dan semua mentor hanya mendorong lahirnya produk atau service entrepreneur? Saya kira masa depan dunia kewirausahaan yang beberapa tahun ini dipanaskan akan kembali berubah menjadi dingin.

 

Tanpa marketing entrepreneur, kelak akan terjadi kelelahan di kalangan wirausaha muda. Mereka keletihan mencari modal, mengembangkan ide, membawa produk dari sebuah gagasan menjadi sesuatu yang siap dipasarkan dan memasarkannya. Pekerjaan besar ini membutuhkan minimal lima tahun untuk melahirkan entrepreneur yang matang dengan produk yang kreatif dan brand yang sustainable. Marketing entrepreneur tidak hanya membantu entrepreneur mendapatkan sumber dana, melainkan juga memasarkan hasil kreasi mereka. Dunia ini memang membutuhkan spesialis-spesialis yang sophisticated dan mendalami pekerjaannya. Dari situlah suatu bangsa membesarkan wirausaha-wirausahanya. Di era internet yang serba terbuka, seorang pemula tidak perlu membangun personal branding hingga bertahun-tahun.

 

Mobilisasi dana investasi cara ini jauh lebih powerfull dari pada sekadar angel investor. Selain memobilisasi dana, seorang entrepreneur pemula juga dapat menguji seberapa kuat penerimaan pasar sekaligus menggantikan marketing test melalui cara-cara konvensional.

Ayo bangun jaringan marketing entrepreneur! Siapa berminat?

 

Dengan hanya menyisihkan sedikit dana dan waktu anda di PT Melia Nature Indonesia sebagai independent distributor, anda akan merasakan sesuatu bisnis jaringan/ Network Marketing yang berbeda dari yang ada sebelumnya. Bersama kami, anda akan mengarungi berbagai pengalaman pengalaman baru berbisnis dengan benar dan cerdas. Sehat, dan sejahtera…. Ya, Anda dapat mempelajari tetang SEHAT dan SEJAHTERA di artikel berikutnya tentang Produk dan Marketing Plan.

 

 

DISCLAIMER :

Materi tulisan yang disajikan dalam artikel ini hanya sebatas memberikan masukan dan brainstorming, bukan merupakan advise yang wajib untuk diikuti. Solusi keuangan sebagai suatu proses yang komprehensif memerlukan analisa data yang akurat yang akan berbeda antara orang yang satu dengan yang lainnya sesuai dengan tujuan, profil dan kondisi keuangan masing-masing orang.

 

 

YOUR TRUSTED BUSINESS PARTNER,

SOLID TEAM WORK

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: